23.13

Catatan Kecil Dalam Dekapan Ukhuwah

Karena beda antara kau dan aku sering kali jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggalkan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
Wasiat Sang nabi itu terasa berat sekali:
“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara,sejenak saja
Menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam bersujud dalam-dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Hungga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
Melantunkan kebaikan di antara bunga,menebarkan keindahan pada dunia

Lalu dengan rindu kita kembali ke daLam dekapan ukhuwah
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya dibumi
Dengan persaudaraan suci; sebening prasangka,selembut nurani,
sehangat semangat,senikmat berbagi.,dan sekokoh janji…

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit.
Lalu menebarkannya di bumi.Sungguh di surga menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang aling mencinta.Mari kita mambangunnya disini, dalam dekapan ukhuwah.
“..Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman.Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka,takkan bisa kau himpunkan hati mereka.Tetapi Allah lah yang telah menyatupadukan mereka..”
(Q.S. Al-Anfal : 63)

Kita sama saja,terpenjara dalam kesendirian
Hanya saja…
Ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya
Sementara yang lain menghuni kamar berjendela…
_Kahlil Gibran_

Ketika kubaca firman-Nya,”Sungguh tiap mukmin bersaudara”
Aku merasa,kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan
Tak perlu,karena ia hanyalah akibat dari iman
Karena saat ikatan melemah,saat keakraban kita merapuh
Saat salam terasa menyakitkan,saat kebersamaan serasa siksaan
Saat pemberian bagai bara api,saat kebaikan justru melukai
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
Hanya iman-iman kita yang sedang sakit,atau mengerdil
Mungkin dua-duanya,mungkin kau saja
Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping
Kubaca firman persaudaraan ukhty saying…
Dan aku makin tahu,mengapa di kala lain diancamkan
“…para kekasih pada hari itu,sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..
Kecuali orang-orang yang bertaqwa..”

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
Kita lekat bagai api dan kayu
Bersama menyala,saling menghangatkan rasanya
Hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
Kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
Merasa menghias langit,menyuburkan bumi, dan melukis pelangi
Namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

Di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
Mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
Bahkan saling menasehati pun tak lain bagai dua lilin
Saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
Pada amal salih yang menjulang bercabang-cabang
Pada akhlak yang manis,lembut, dan wangi
Hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
Yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya

Persaudaraan adalah mu’jizat, wadah yang saling berkaitan
Dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan
Saling bersaudara,saling merendah lagi memahami
Saling mencintai, dan saling berlembut hati –Sayyid Qutb-

Malam berlalu,tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu
Kepada mereka yang wajahnya mengingatkanku akan surge
Wahai fajar terbitlah segera,
Agar sempat kukatakan pada mereka “aku mencintai kalian karna Allah
Iman kita agaknya bukan bongkah batu karang yang tegak kokoh
Dia hidup bagai cabang menjulang dan dedaun rimbun
Selalu tumbuh, dan menuntut akarnya menggali kian dalam
Juga merindukan cahaya mentari,embun, dan udara pagi
Andai si biji hanya menumbuhkan akarnya
Tanpa kehendak untuk tampil dengan batang
Menggapai langit dengan ranting dan cabang
Jadilah ia bangkai
Yang layaknya memang terkubur dalam-dalam

Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan kita Setiap orang adalah guru bagi kita
Ya.Setiap orang.Siapapun mereka.
Yang baik juga yang jahat.Betapapun yang mereka berikan kepada kita selama ini hanyalah luka ,rasa sakit,kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita.Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana.Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.
Mereka mungkin tanah gersang.Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana.Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya,awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghiasi malamnya.
Tetapi barangkali,kita justru adalah tanah paling gersang.Lebih gersang dari sawah yang kerontang.Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau panjang.Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus.Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana.

-jika satu-satunya alat yang kau miliki adalah palu,
kau akan cenderung melihat segalanya sebagai paku-

Aku takjub pada orang yang suka dipuji atas apa yang tak dilakukannya
Aku takjub pada orang yang suka dikagumi atas hal yang bukan miliknya
Aku takjub pada orang yang merasa benar dengan menyalahkan kawan
Aku takjub pada orang yang merasa mulia dengan menghinakan sesama
Dan semua itu akan kuringkas menjadi :Aku takjub pada diriku sendiri..

Menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah
Terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri
Jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita
Tidakkah kita curiga bahwa kita inilah masalahnya???

Jika sebuah penghinaan tak lebih mengerikan
Dibanding apa yang Allah tutupi dari kesejatian kita
Maka bukankah ia adalah sebait sanjungan???





Betapa Aku mencintai kalian karna Allah..seindah ukhuwah kita..di syurga

0 komentar:

Posting Komentar