Sebab cinta merindukan para pelakunya yang setia, sebab cinta memaknai apa yang dimaknai, dan sebab cinta selalu ada bagi para pencinta-pencinta sejati.
Cinta memang indah, terlebih ketika cinta mulai merasuki jiwa-jiwa yang sedang jatuh karenanya. Tapi cinta bukanlah sekedar cinta jiwa kepada sesama manusia, melainkan ada lagi cinta-cinta lain yang karenanya kita bekerja (amal) memanifestasikan amal-amal yang kita perbuat hanya karena-Nya dan karenanya lah para pencinta sejati rela merelakan hidupnya dan meregangkan nyawanya hanya untuk sebuah totalitas cinta kepadaNya, ini dinamakan dengan cinta misi.
Begitulah cinta bekerja, memaknai apa yang dimaknai. Ketika cinta bekerja, ruangnya tak berbatas, ia memiliki ruang kehidupannya sendiri yang luas dan inti dari pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk terus tumbuh dan berbahagia karenanya.
Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidupnya ; memberi. Tak perlulah repot-repot kita melihat zaman yang sangat jauh dibelakang, kita lihat saja ketika Imam Syahid Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb ketika itu rela meregangkan nyawanya hanya untuk sebuah pengabdian dan penghambaan cintanya kepada Pemilik Cintanya, itu semua semata-mata demi misi besar mereka, memberikan sepenuh cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, terus dan terus menerus memberi. Dan seekor kupu-kupu yang ketika itu masih berbentuk kepompong dan kemudian bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, dengan menahan rasa sakitnya ia terus menerus mendorong dirinya keluar dari kepompongnya untuk menunjukkan dan memberikan keindahannya kepada dunia dengan penuh cinta, tanpa pernah dimintapun kupu-kupu selalu memberikan yang terindah, bahkan ia rela sekalipun ia tidak pernah menikmati keindahan dirinya sendiri, itu semua ia lakukan demi cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, terus dan terus menerus memberi tanpa pernah meminta ataupun menerima.
Seperti dikutip dari note saudara saya Fadli Rahman,”Karna cinta berarti harus siap memberi, memberikan yang terbaik, memberikan yang terindah, bahkan sampai harus meregang nyawa.”
Bagaimana dengan menerima? Mungkin atau bisa jadi hal itu pasti, tapi itu hanyalah sebuah efek, efek dari apa yang para pencinta sejati berikan, seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebijakan yang sama pula.
Begitulah cinta bekerja, memaknai apa yang dimaknai.
***
Cinta memang indah, terlebih ketika cinta mulai merasuki jiwa-jiwa yang sedang jatuh karenanya. Tapi cinta bukanlah sekedar cinta jiwa kepada sesama manusia, melainkan ada lagi cinta-cinta lain yang karenanya kita bekerja (amal) memanifestasikan amal-amal yang kita perbuat hanya karena-Nya dan karenanya lah para pencinta sejati rela merelakan hidupnya dan meregangkan nyawanya hanya untuk sebuah totalitas cinta kepadaNya, ini dinamakan dengan cinta misi.
Begitulah cinta bekerja, memaknai apa yang dimaknai. Ketika cinta bekerja, ruangnya tak berbatas, ia memiliki ruang kehidupannya sendiri yang luas dan inti dari pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk terus tumbuh dan berbahagia karenanya.
Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidupnya ; memberi. Tak perlulah repot-repot kita melihat zaman yang sangat jauh dibelakang, kita lihat saja ketika Imam Syahid Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb ketika itu rela meregangkan nyawanya hanya untuk sebuah pengabdian dan penghambaan cintanya kepada Pemilik Cintanya, itu semua semata-mata demi misi besar mereka, memberikan sepenuh cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, terus dan terus menerus memberi. Dan seekor kupu-kupu yang ketika itu masih berbentuk kepompong dan kemudian bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, dengan menahan rasa sakitnya ia terus menerus mendorong dirinya keluar dari kepompongnya untuk menunjukkan dan memberikan keindahannya kepada dunia dengan penuh cinta, tanpa pernah dimintapun kupu-kupu selalu memberikan yang terindah, bahkan ia rela sekalipun ia tidak pernah menikmati keindahan dirinya sendiri, itu semua ia lakukan demi cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, terus dan terus menerus memberi tanpa pernah meminta ataupun menerima.
Seperti dikutip dari note saudara saya Fadli Rahman,”Karna cinta berarti harus siap memberi, memberikan yang terbaik, memberikan yang terindah, bahkan sampai harus meregang nyawa.”
Bagaimana dengan menerima? Mungkin atau bisa jadi hal itu pasti, tapi itu hanyalah sebuah efek, efek dari apa yang para pencinta sejati berikan, seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebijakan yang sama pula.
Begitulah cinta bekerja, memaknai apa yang dimaknai.
***


0 komentar:
Posting Komentar