(منهج التعليم اللغة العربية)
(METODE BELAJAR BAHASA ARAB PRAKTIS)
فعل المضارع (kata kerja yang menunjukkan "sedang dilakukan)
(rumus:fi'il mudhori'(kt kerja)+fa'il(subjek)+maf'ul bih(objek))
Asal-muasal terbentuknya fi'il mudhori'
•Dari kata benda (noun)
Contoh:
مَكْـتَبٌ = مَ – كَ – تَ – بَ = ( فعل الماضي ) كَتَبَ ( فعل المضارع ) يَكْتُب
(dia laki2 sedang menulis) (dia (Lk) menulis/past) (meja=tempat untuk menulis)
*ﻱ dalam kata يَكْتُب memiliki fungsi sebagai dhomir (subjek) yang menunjuk kepada subjek Dia Laki-laki.Dalam penggunaannya selalu berubah sesuai dengan subjek yang dimaksud.Karena itu huruf yaa bersifat tidak tetap, sedangkan susunan huruf setelahnya tetap karena merupakan kata dasar.Bisa dikatakan )ﻱyaa) berfungsi sebagai imbuhan yang mempertegas subjek yang dimaksud dalam kalimat tersebut.Perhatikan tabel dibawah ini:
اَلْفِعِلُ اَلْمُضَارِعْ اَلْمَعْنَى الضَمِيْر
يَكْتُبُ (sedang menulis) Dia laki-laki (Ali,dll) هُوَ
يَكْتُبَان(sedang menulis) Mereka (2 orng laki-laki) هَمًأ
يَكْتًبُونَ (sedang menulis) Mereka (laki-laki banyak) هُمْ
تَكْتُب(sedangmenulis) Dia perempuan (Aisyah,dll) هِيَ
تَكْتُبَانِ (sedang menulis) Mereka (2 orang perempuan) هُمَا
يَكْتُبْنَ(sedangmenulis) Mereka (perempuan banyak) هُنَّ
تَكْتُبُ(sedangmenulis) Kamu laki-laki اَنْتَ
تَكْتُبَانِ (sedang menulis) Kamu (2 orang laki-laki) اَنْتًمَا
تَكْتُبْنَ(sedang menulis) Kamu(laki-laki) sekalian اَنْتًمْ
تَكْتُبِيْنَ(sedang menulis) Kamu perempuan اَنْتِ
تَكْتُبَانِ(sedang menulis) Kamu (2 orang perempuan) اَنْتًمَا
تَكْتُبْنَ(sedang menulis) Kamu (perempuan)sekalian اَنْتًنَّ
اَكْتُبُ (sedang menulis) Saya اَنَا
نَكْتُبُ (sedang menulis) Kami/kita نَحْنً
Find My Destiny
Jejak Langkah seorang Muslimah
Cinta memang indah, terlebih ketika cinta mulai merasuki jiwa-jiwa yang sedang jatuh karenanya. Tapi cinta bukanlah sekedar cinta jiwa kepada sesama manusia, melainkan ada lagi cinta-cinta lain yang karenanya kita bekerja (amal) memanifestasikan amal-amal yang kita perbuat hanya karena-Nya dan karenanya lah para pencinta sejati rela merelakan hidupnya dan meregangkan nyawanya hanya untuk sebuah totalitas cinta kepadaNya, ini dinamakan dengan cinta misi.
Begitulah cinta bekerja, memaknai apa yang dimaknai. Ketika cinta bekerja, ruangnya tak berbatas, ia memiliki ruang kehidupannya sendiri yang luas dan inti dari pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk terus tumbuh dan berbahagia karenanya.
Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidupnya ; memberi. Tak perlulah repot-repot kita melihat zaman yang sangat jauh dibelakang, kita lihat saja ketika Imam Syahid Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb ketika itu rela meregangkan nyawanya hanya untuk sebuah pengabdian dan penghambaan cintanya kepada Pemilik Cintanya, itu semua semata-mata demi misi besar mereka, memberikan sepenuh cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, terus dan terus menerus memberi. Dan seekor kupu-kupu yang ketika itu masih berbentuk kepompong dan kemudian bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, dengan menahan rasa sakitnya ia terus menerus mendorong dirinya keluar dari kepompongnya untuk menunjukkan dan memberikan keindahannya kepada dunia dengan penuh cinta, tanpa pernah dimintapun kupu-kupu selalu memberikan yang terindah, bahkan ia rela sekalipun ia tidak pernah menikmati keindahan dirinya sendiri, itu semua ia lakukan demi cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, terus dan terus menerus memberi tanpa pernah meminta ataupun menerima.
Seperti dikutip dari note saudara saya Fadli Rahman,”Karna cinta berarti harus siap memberi, memberikan yang terbaik, memberikan yang terindah, bahkan sampai harus meregang nyawa.”
Bagaimana dengan menerima? Mungkin atau bisa jadi hal itu pasti, tapi itu hanyalah sebuah efek, efek dari apa yang para pencinta sejati berikan, seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebijakan yang sama pula.
Begitulah cinta bekerja, memaknai apa yang dimaknai.
***
Karena beda antara kau dan aku sering kali jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggalkan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
Wasiat Sang nabi itu terasa berat sekali:
“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”
Mungkin lebih baik kita berpisah sementara,sejenak saja
Menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam bersujud dalam-dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Hungga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
Melantunkan kebaikan di antara bunga,menebarkan keindahan pada dunia
Lalu dengan rindu kita kembali ke daLam dekapan ukhuwah
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya dibumi
Dengan persaudaraan suci; sebening prasangka,selembut nurani,
sehangat semangat,senikmat berbagi.,dan sekokoh janji…
Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit.
Lalu menebarkannya di bumi.Sungguh di surga menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang aling mencinta.Mari kita mambangunnya disini, dalam dekapan ukhuwah.
“..Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman.Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka,takkan bisa kau himpunkan hati mereka.Tetapi Allah lah yang telah menyatupadukan mereka..”
(Q.S. Al-Anfal : 63)
Kita sama saja,terpenjara dalam kesendirian
Hanya saja…
Ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya
Sementara yang lain menghuni kamar berjendela…
_Kahlil Gibran_
Ketika kubaca firman-Nya,”Sungguh tiap mukmin bersaudara”
Aku merasa,kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan
Tak perlu,karena ia hanyalah akibat dari iman
Karena saat ikatan melemah,saat keakraban kita merapuh
Saat salam terasa menyakitkan,saat kebersamaan serasa siksaan
Saat pemberian bagai bara api,saat kebaikan justru melukai
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
Hanya iman-iman kita yang sedang sakit,atau mengerdil
Mungkin dua-duanya,mungkin kau saja
Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping
Kubaca firman persaudaraan ukhty saying…
Dan aku makin tahu,mengapa di kala lain diancamkan
“…para kekasih pada hari itu,sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..
Kecuali orang-orang yang bertaqwa..”
Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
Kita lekat bagai api dan kayu
Bersama menyala,saling menghangatkan rasanya
Hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu
Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
Kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
Merasa menghias langit,menyuburkan bumi, dan melukis pelangi
Namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai
Di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
Mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
Bahkan saling menasehati pun tak lain bagai dua lilin
Saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
Pada amal salih yang menjulang bercabang-cabang
Pada akhlak yang manis,lembut, dan wangi
Hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
Yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya
Persaudaraan adalah mu’jizat, wadah yang saling berkaitan
Dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan
Saling bersaudara,saling merendah lagi memahami
Saling mencintai, dan saling berlembut hati –Sayyid Qutb-
Malam berlalu,tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu
Kepada mereka yang wajahnya mengingatkanku akan surge
Wahai fajar terbitlah segera,
Agar sempat kukatakan pada mereka “aku mencintai kalian karna Allah
Iman kita agaknya bukan bongkah batu karang yang tegak kokoh
Dia hidup bagai cabang menjulang dan dedaun rimbun
Selalu tumbuh, dan menuntut akarnya menggali kian dalam
Juga merindukan cahaya mentari,embun, dan udara pagi
Andai si biji hanya menumbuhkan akarnya
Tanpa kehendak untuk tampil dengan batang
Menggapai langit dengan ranting dan cabang
Jadilah ia bangkai
Yang layaknya memang terkubur dalam-dalam
Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan kita Setiap orang adalah guru bagi kita
Ya.Setiap orang.Siapapun mereka.
Yang baik juga yang jahat.Betapapun yang mereka berikan kepada kita selama ini hanyalah luka ,rasa sakit,kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita.Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana.Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.
Mereka mungkin tanah gersang.Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana.Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya,awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghiasi malamnya.
Tetapi barangkali,kita justru adalah tanah paling gersang.Lebih gersang dari sawah yang kerontang.Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau panjang.Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus.Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana.
-jika satu-satunya alat yang kau miliki adalah palu,
kau akan cenderung melihat segalanya sebagai paku-
Aku takjub pada orang yang suka dipuji atas apa yang tak dilakukannya
Aku takjub pada orang yang suka dikagumi atas hal yang bukan miliknya
Aku takjub pada orang yang merasa benar dengan menyalahkan kawan
Aku takjub pada orang yang merasa mulia dengan menghinakan sesama
Dan semua itu akan kuringkas menjadi :Aku takjub pada diriku sendiri..
Menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah
Terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri
Jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita
Tidakkah kita curiga bahwa kita inilah masalahnya???
Jika sebuah penghinaan tak lebih mengerikan
Dibanding apa yang Allah tutupi dari kesejatian kita
Maka bukankah ia adalah sebait sanjungan???
Betapa Aku mencintai kalian karna Allah..seindah ukhuwah kita..di syurga
Faham Adat Istiadat
Faham ini menentukan baik buruknya suatu perbuatan hanya memandang dari segi adat istiadat yang berlaku di tengah-tengah masyarkat.Jika kita kaji lebih dalam,faham ini juga memiliki kekurangan yang perlu dikritisi.
Menilik dari segi kebaikan yang ditimbulkan,faham adat istiadat hanya memandang kebaikan yang bersifat sosial karena bersumber dari beberapa komunitas yang bersepakat pada beberapa hal saja. Padahal kebaikan tersebut belum tentu dapat memberikan kebaiakan pada jiwa itu sendiri.
Adat istiadat mungkin dapat menjadi acuan baik dan buruknya suatu perbuatan,tetapi jika adat yang berlaku di suatu komunitas itu bukanlah suatu adat yang berpegang pada rambu-rambu agama,maka tidaklah relevan bagi masyarakat untuk menjadikannya penentu kebaikan.Contoh mendasar,seperti yang terjadi pada komunitas betawi dalam masalah perkawinan yang mengikat para keturunan betawi untuk bertempat tinggal di lingkungan mereka dan dilarang untuk berhijrah walaupun dengan alasan ingin mendapatkan kehidupan yang lebih mapan.
Sebut saja “R”,ia adalah seorang pria yang telah memiliki pekerjaan tetap,penghasilan yang cukup dan telah menyelesaikan S2nya.Setelah meraih segalanya,ia ingin menyempurnakan setengah agamanya dengan jalan pernikahan sesuai dengan syariat Islam.Pada suatu ketika,ia berkeinginan untuk mempersunting gadis betawi asli yang memegang prinsip tersebut.Pihak sang gadis memberikan persyaratan yang cukup sulit untuk dilakoni bagi “R”yaitu,diharuskan baginya mengikuti sang istri yang dilarang berhijrah mengikuti suami dan tinggal selamanya di lingkungan mereka.Padahal dalam pandangan Islam,ketika akad suci pernikahan telah disahkan,maka wajib bagi sang istri untuk mentaati sang suami selama sang suami berada di jalan Allah karena laki-laki adalah imam bagi kaum hawa dan bukan sebaliknya,imam yang mengikuti makmum.Ini adalah contoh adat-istiadat yang tidak relevan bagi siapapun karena pada hakikatnya setiap manusia berhak memilih di lingkungan mana ia akan melanjutkan hidup.
Pesta Anggur(Wine Party) adalah adat istiadat yang terus dibudidayakan dikalangan para bangsawan barat dan merambat pada pertemuan duta besar negara-negara dunia.Acara ini bertujuan untuk saling menghormati para pembesar di tiap negara.Ironisnya,negara yang berkaliber Islam pun,tidak bisa mengelak dari tawaran meneguk satu gelas wine yang telah disajikan guna menghormati negara lain.Hal yang amat riskan jika menolak dengan dalih agama,karena ini bersifat profesinalitas dan telah menjadi adat atau tradisi mereka.
Contoh konkrit yang lain seperti apa yang dilakukan oleh sebagian orang pada zaman
Jahiliyyah,yaitu membunuh anak yang dilahirkan sebagai anak perempuan.Perbuatan itu adalah perbuatan yang buruk bagi kehidupan manusia,akan tetapi pada zaman jahiliyyah tidak dianggap sebagai perbuatan tercela,walaupun pada saat kedatangan Islam,perbuatan tersebut dianggap perbuatan yang tercela bagi dari segi agama maupun segi kemanusiaan.
Dari kutipan atas kita dapat menyimpulkan bahwa adat istiadat yang berlaku di masyarakat dan dianggap baik oleh suatu massa boleh jadi dipandang tidak baik dimassa yang berbeda.Dengan kata lain,adat istiadat itu relatif sifatnya.Oleh karena itu tidak dapat dijadikan sebagai ukuran baik dan buruknya suatu perbuatan.
Faham Hedonisme
Banyak sekali hal yang perlu dikritisi dari paham ini yang amat bertentangan dengan budaya bangsa indonesiaHedonisme mengarahkan suatu kebaikan yang menjadikan kepuasan dan kesenangan sebagai tolak ukurnya.Sedangkan kepuasan dan kesenangan manusia tidak terbatas.
Sebagaimana yang telah kita saksikan di sekitar kita bagaimana faham ini dapat merusak moral pengikutnya.Ada banyak orang yang berorientasi pada harta sebagai puncak kepuasan dan kebahagiaan,sehingga seumur hidupnya ia selalu menumpuk kekayaan dan enggan untuk berbagi dengan sesama.
Ada juga berorientasi pada pangkat dan kekuasaan,sehingga yang dipikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan jabatan tinggi dan dapat menguasai apa yang diinginkan tanpa mempertimbangkan cara atau langkah-langkah yang dilakukan dalam pencapaian tersebut,entah melalui jalan yang benar secara akal ataupun dari jalan yang tercela semisal merebut kekuasaan dengan menjilat,merampas hak milik orang lain, menipu dan cara-cara lain yang tidak bermoral dan bertentangan dengan kemanusiaan.
Hedonisme dalam segi kesenangan dan kepuasan hawa nafsulah yang paling membahayakan.Seperti maraknya dunia remaja akhir-akhir ini yang sama sekali belum dikenalkan tentang agama oleh kedua orang tuanya dan terjebak pada hingar bingar dunia dugem.Para pelaku seks bebas yang dengan bangga mencibir remaja-remaja lainnya karena belum pernah melakukan perbuatan zina telah menjadi fenomena yang tidak asing lagi pada generasi muda bangsa.Mereka beranggapan bahwa kepuasan nafsu harus diutamakan karena ini merupakan fitrah dari Tuhan.Padahal Islam tidak mengajarkan demikian.Agama kita mengajarkan untuk senantiasa menjaga kemaluan kita,dan mengentaskan syahwat kita kepada pasangan yang telah halal bagi kita dengan cara yang paling mulia yaitu pernikahan.
Walaupun hedonisme juga mengarah pada ilmu pengetahuan dan agama yang membuat penganut paham tersebut lebih memperdalam dan terus mencari kebenaran ilmu maupun agama,tetapi adakalanya hal yang mereka cari hanya bersifat kepuasan dan kelezatan sesaat.Terkadang lebih mengarah kepada kelezatan yang wajar tetapi belum diperlukan,dan mengakibatkan pada kelezatan sesaat yang tidak wajar dan tidak diperlukan.
Setelah menguraikan beberapa contoh kehidupan hedonis,kita dapat menyimpulkan bahwa nilai kebaikan yang diberikan melalui faham ini hanya bersifat lokal dan temporal,bersifat tidak objektif, dan hanya mendatangkan hasil dari suatu perbuatan,tanpa melihat niat dan cara dalam proses pencapaiannya.
Ahmad Amin mengkritik aliran hedonisme karena aliran ini menjadikan manusia bersifat egois,mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada orang lain sebagaimana yang telah saya paparkan di atas.
Faham Humanisme
Faham ini meletakkan hati nurani dan insting sebagai pedoman baik dan buruk suatu perbuatan.Pada dasarnya faham ini sejalan dengan ajaran Islam tetapi harus disertai dengan rambu-rambu.Aliran ini juga berpendapat bahwa kekuatan batin dapat melihat sekilas pandang nilai suatu perbuatan.Pada kenyataannya manusia memiliki kepekaan kekuatan batin
Faham ini berpendapat bahwa kebaikan tidak dinilai dari kekuasaan ataupun kesenangan semata,tetapi karena sesuatu di nilai benar oleh dalam diri seseorang.Jika dalam hati nuraninya mengatakan itu baik,maka perbuatan itu bernilai baik.Jika setiap perbuatan tidak bertentangan dengan hati nuraninya maka perbuatan tersebut dinilai baik.Memang hati nurani kita tidak salah,tetapi terkadang cara yang timbul untuk mengatasinya adalah suatu kesalahan dan kita tidak dapat mengatasnamakan hati nurani.
Contoh konkrit yang dapat kita amati di sekitar kita.Hati kita begitu tersentuh ketika melihat anak kecil ataupun lansia harus rela tidur di jalanan sedangkan para koruptor yang memakan uang rakyat dengan tanpa merasa berdosa dapat tertidur pulas di singgasana mereka.Hati nurani kita mengatakan apa yang dilakukan para koruptor itu salah,tetapi apa benar jika kita mengikuti hati nurani kita untuk menegakkan terkeadilan kaum fakir miskin yang tertindas dengan cara merampok uang-uang koruptor dan membagikannya kepada rakyat miskin?????inilah pemahaman yang salah kaprah tentang bagamana hati nurani kita mengatasi suatu keburukan dengan menambah keburukan yang lain.
Humanisme hanya memandang kebaikan yang bersifat fisik.Jika suatu perbuatan itu memberi kenikamatan bagi panca indera maka perbuatan tersebut dipandang baik dan belum tentu yang baik menurut panca indera baik juga bagi keseimbangan jiwa.
Sesuatu dipandang baik apabila menimbulkan rasa haru,puas dan senang.Pada hakikatnya perasaan haru, puas ,dan senang tidak dapat kita jadikan acuan baik dan buruknya suatu sifat jika tidak diikuti dengan rambu-rambu yang membatasi.Karena akan menimbulkan perasaan yang meluap-luap.Sedih yang terlalu dan kebahagiaan yang terlalu,padahal menurut pandangan agama sesuatu yang berlebihan itu datangnya dari syetan dan hanya ungkapan dari hawa nafsu yang telah keluar dari koridor hati nurani.
Emosi dalam humanitas yang negatif dapat menimbulkan rasa tanggung jawab yang tidak berdasarkan rambu-rambu.Seseorang diangkat menjadi direktur perusahaan.Setelah lima tahun menjabat,diketahui ia telah menggelapkan sejumlah uang.Karena nuraninya yang mengatakan perbuatannya itu salah maka ia bersedia untuk bertanggung jawab dengan jalan bunuh diri.
Kebenaran memang dapat dicari dan ditemukan di dalam hati.Walaupun demikian manusia dalam menangkap kebenaran itu tidak sama kepekaan maupun tingkatannya.Karena itu kebenaran intuisi atau pun akal budhi yang difahami oleh kaum humanis harus dikembalikan kepada nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Faham Utilitarianisme
Tidak jauh berbeda dengan faham humanisme,paham ini pun hampir sejalan dengan tuntunan agama.Sebegaimana kita ketahui faham ini mengacu kepada kebaikan yang bersumber dari manfaat.Apabila suatu ri perbuatan dapat menghasilakan manfaat untuk orang banyak,maka perbuatan tersebut mengandung kebaikan dan begitu pun sebaliknya.
Tetapi yang perlu kita kaji lagi,dari sudut mana manfaat itu sendiri dipandang?dari segi manfaat yang juga mendatangkan mudhorotkah?
Kita misalkan khamr atau minuman keras.Produksi khamr bagi orang yang bekerja di dalamnya sangat menguntungkan,apalagi dengan peminatnya yang begitu besar akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar.Berapa banyak keluarga yang dapat ditanggung dengan pendapatan yang dihasilkan dari bisnis minuman keras.Menurut paham utilitarianisme hal ini sah-sah saja dilakukan karena dapat mendatangkan manfaat dengan menghidupi banyak orang.Tetapi apabila kita telusuri lebih jauh dan mencoba untuk melihat mudhorot yang ditimbulkan dari minuman haram tersebut,dampak negatifnya jauh lebih besar.Allah SWT berfirman dalam kitabNya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir(Al-Baqoroh :219)
Contoh lain yang bisa kita ambil dari para pecandu rokok maupun pengusaha rokok.Bagi para pecandu rokok,dengan menghisap rokok akan mendatangkan kenikmatan tersendiri,memberikan ketenangan batin di tengah masalah yang dihadapi,membuat semangat kerja meningkat,adakalanya ide-ide dan solusi muncul disaat merokok sehingga membuat mereka tergantung padanya.Begitu pula bagi para pengusaha rokok yang telah memperkerjakan orang kecil dan memberikan mereka sumber penghidupan yang jauh lebih baik daripada menjadi pengangguran.Secara rasional banyak sekali manfaat yang ditimbulkan dari segi konsumen maupun produsen,tetapi sekali lagi tidak semua hal yang dipandang bermanfaat bagi suatu kaum dapat dipandang dengan hal yang sama menurut sebagian yang lain.
Manfaat dapat dijaadikan pertimbangan untuk mengukur nilai baik dan buruk dengan catatan bahwa manfaat itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan yang lain sebagaimana yang dipahami oleh kaum utilitarianisme yang mengenyampingkan segala sesuatu yang dilarang oleh agama dan merupakan pelanggaran terhadap sesuatu yang dilarang Allah.
Paham ini juga memastikan memberi hukum hanya kepada perbaikan dan keburukannya padahal sulit sekali untuk mengetahui perbuatan yang membawa manfaat bagi umat kita,tetapi justru bencana bagi pihak lain.Naudzubillah.
Faham Vitalisme
Dari berbagai faham yang telah kita uraikan di atas,faham inilah yang paling jauh dari kemanusiaan.Diawali dengan menjadikan kekuatan dan kekuasaan sebagai patokan kebaikan dan melahirkan sifat-sifat biadab yang lainnya.Penganut paham ini saling berlomba-lomba untuk menjatuhkan lawan yang dapat membahayakan tonggak kekuasaannya.Bahkan jika sesama saudara sekalipun mereka tidak segan-segan untuk menghancurkannya.
Faham ini pula yang memicu timbulnya perbudakan dan penjajahan.Setiap negara saling menjarah kebahagiaan bangsa lain,merampas kehidupan banyak orang,hanya demi ambisi semata.Mereka memiliki semboyan yang kuatlah yang menang.
Sayangnya faham ini masih terus membudaya,walaupun telah dikecam banyak pihak.Sebut saja Palestina yang menjadi korban kekejaman Israel yang selalu berkeinginan untuk mengusir negara tersebut dari tanah kelahiran mereka.Dari faham ini lahirlah sifat kebinatangan manusia yang banyak menimbulkan kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesama manusia.
Hal ini telah dapat menjadi testimoni yang kuat bahwa pada dasarnya tidak mungkin suatu kebaikan dapat dinilai hanya dari segi kekuasaan dan kekuatan karena kedua hal tersebut justru menjadi titik awal munculnya pertikaian yang merisaukan bagi semua umat manusia.
Faham ini juga jelas-jelas bertentangan dengan agama Islam yang selalu mengajarkan berbagi dengan sesama dengan berzakat,saling tolong menolong dalam kebaikan bukan malah menjatuhkan.
DalamVitalisme tidak mengenal rasa empati kepada sesama makhluk.Kelemahan adalah suatu kekurangan yang harus diterima sejak lahir dan siap tersingkir dari kehidupan.Walaupun zaman sekarang sudah tidak ada lagi upaya penjajahan dengan menjunjung tinggi solidaritas berbangsa,tetapi aplikasi di kehidupan yang marak kita saksikan bagaimana generasi muda bangsa dijajah secara halus melalui program-program yang ditayangkan di televisi,juga melalui media cetak yang memperkenalkan fashion ditambah dengan maraknya makanan jung food yang diproduksi oleh negara adikuasa.Ternyata di era globalisasi ini pun faham vitalisme masih sangat dominan berperan dalam kancah dunia yang terselubung.
Ada beberapa orang yang dapat mengelola kekuasaan dan kekuatan mereka secara tepat dan bijaksana,tetapi hanya beberapa pula yang sanggup bertahan dengan godaan kekuasaan.karena dengan memiliki kuasa,mereka dapat menentukan segala apa yang mereka inginkan dan dapat mereka pergunakan untuk memperdaya orang lain.Dengan kekuatan pula mereka dapat menyingkirkan lawan yang dirasa cukup membahayakan keamanan mereka dan mengindahkan hati nurani yang berbicara.Sama sekali bukan mencerminkan manusia.
Kelompok vitalism terkenal dengan ungkapan “homo homini lupus” artinya “manusia adalah serigala bagi manusia yang lain”. Penganut faham ini memiliki motto “perang adalah halal”, sebab orang yang berperang itulah (yang menang) yang akan memegang kekuasaan. Tokoh terkenal aliran vitalisme adalah F. Niettsche yang banyak memberikan pengaruh terhadap Adolf Hitler.Dari berbagai alasan inilah,kita dapat menyimpulkan bahwa faham ini dapat mendatangkan dampak negatif yang besar bagi ummat manusia.
Hidup harus saling memahami pemahaman yang tulus
Hidup harus saling mengerti pengertian yang benar
Hidup harus saling menerima penerimaan yang indah
tak peduli lewat apa pemahaman,pengertian dan penerimaan iu datang
tak masalah meskipun lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan
tak ada yang perlu disesali
tak ada yang perlu ditakuti
teruslah melangkah


