01.56

Gimana ini???

Kenapa rasanya sakit sekali??//
Padahal komitmen awalnya sudah bisa dimengerti..
Hanya keajaiban dan skenario illahi yang bisa membuat itu jadi nyata??
Apakah aku boleh berharap??

21.29

Dari Guruku Tercinta

Dalam kehidupan ini, aku ingin memilah antara aku dan egoku, anatara aku, dan rasa sakitku, antara aku dan rasa takutku, antara aku dan rasa sombongku, antara aku dan rasa iri ku.

Diam sejenak mengendapkan semua ego yang tercampur dengan diri, karena apapun yang terjadi aku adalah matahari dan seluruh ego mengorbit padaku, aku adalah aku, bukan bayanganku,

ya Rob, esok hari jumat, adalah awal tahun baru, awal tahun yang entah apa yang telah aku perbuat selama 25 tahun hidupku, terkadang aku teramat jauh dari diriku, terkadang aku mengumpat diriku, bersyukur dan sekaligus menggugat diriku.

Apakah aku? Bagaimana aku? Aku adalah titik dari sebuah lukisan yang teramat besar. Aku hanyalah titik kecil diantara titik-titik makhlukMu yang lainnya. Namun sekali waktu aku besar karena hati ini besar.

Engkau ciptakan aku, dengan sedemikian rupa, untuk bersyukur atas kehidupan ini, mungkin teramat jarang,
sedangkan Engkau tidak pernah lupa menghidupkanku setelah tidurku,
Engkau tidak pernah lupa untuk terus memberikan udara untukku bernafas.

Seandainya Engkau bukan Tuhan mungkin Engkau teramat marah terhadap mahluk ciptanMu yang bernama manusia. Terutama kepadaku. Yang selalu berdosa.

Ya Rob…. Di tahun baru ini, ada banyak ruang yang didalamnya aku ingin berkarya, bekerja untuk hutang kehidupanku padaMu. Meskipun tak sehebat yang dilakukan oleh para sahbat ketika hijrah, Hijrah Rasul adalah lambang segalanya, esok hari seperti halnya yang terjadi pada tahun 1 H. banyak hal dimana kita harus selalu berkaca, berkaca pada pengorbanan sahabat untuk membantu nabi hijrah, mereka lebih mencintai Rasul dari pada diri mreka sendiri. Ali bin Abi Tholib, menggantikan tempat tidur rosulullah ketika malam itu beliau berangkat Hijrah dan kita tahu konsekuensi apa yang akan ditanggung oleh sahabat Ali ra..
Sedangkan Abu Bakar, menyertai rosulullah dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Al Bukhori meriwayatkan dari Anas, dari Abu Bakar, dia berkata : “Aku bersama Nabi saw di dalam gua. Kudongakkan kepala, dan kulihat kaki beberapa orang. Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, andaikata mereka melongokkan pandangannya, tentu mereka akan melihat kita. Nabi saw berkata “ apa pikiranmu wahai Abu Bakar tentang dua orang, sedang yang ketiga adalah Allah”.
Dalam hal ini dia berkata “Jika aku terbunuh, maka aku hanyalah seorang manusia, namun jika engkau yang terbunuh, maka umat tentu akan binasa. (Siratir-Rosul, SyaikhAbdullah Annajdy).

Allah selalu bersama kita ketika kita teguh kepadaNYa. Allah tidak hanya menemani rasul dan para sahabat untuk hijrah, tapi juga menemani kita, kita juga umat rasul yang akan diberikan pertolangan selama kita teguh terhadapNya.

Tahun baru ini aku ingin melepas semua, berdamai dengan kesalahanku yang telah lalu, memafkan diriku atas kebodohanku, memafkan diriku atas hatiku yang kotor, memafkan diriku untuk bisa terus memperbaiki diriku, untuk terus bersyukur kepadaMu.

Sesadar sadarnya dalam kehidupanku, aku hanya berhadapan dengan aku, karena apapun kehidupan ini aku yang merespon bukan mereka yang membuatku marah, namun hatiku memilih untuk marah, bukan suasana yang membuatku malas tapi aku yang memilih untuk malas, AKU mengontrol semua, semuanya mengorbit pada SELF, AKU.

Apa yang terjadi esok, yang penting hari ini aku SEMANGAT, aku ingin menjalani semua dengan BERANI. Berani layaknya sahabat rasul ketika hijrah, berani layaknya Ali tidur untuk menggantikan rasul.
Aku tidak akan gentar atas apapun, karena Dia yang menciptakanku, Dia maha Besar, aku tidak akan menjadi kerdil hanya karena manusia, apa yang kita takutkan kepada manusia, kita sama, mempunyai jiwa, emosi, nafas, ruh dan otak untuk berpikir. Sukses ataukah gagal itu adalah suatu konsekwensi yang tidak perlu dipikirkan, yang jelas proses berani harus ada dalam hidup ini, kita bukan hanya riak atas apa yang dilakukan oleh orang lain, kita juga ombak yang bisa menghempas kan semua ke tepian. Bahkan kita bisa menjadi air bah yang merubah segalanya.

Tahun ini HARUS LEBIH BAIK
Tahun ini harus lebih bisa menjadi MANUSIA dan bukan menjadi SETAN. Karena syarat menjadi manusia bukan sesuatu yang mudah. kita di uji untuk mengabaikan atau mendengarkan kata hati kita yang selalu benar. Kita di uji apakah kebinatangan kita yang dominan atau aspek ilahi kita yang lebih dominan.

Waktu,
hanya waktu yang menjadi saksi atas segala apa yang kita perbuat, kita ucap, kita pikir, dan atas apa yang terdetik dalam hati kita.

Semua tulisan ini tidak penting, yang terpenting adalah apa yang akan terjadi setelah tulisan ini tertuliskan dan terbaca oleh siapapun, aku, kamu, dia, kita semua tidak memerlukan tulisan ini untuk menasehati diri kita, karena kita yang lebih mengetahui diri kita, dan apa yang kita pilih dalam kehidupan ini, apa yang kita maui untuk kita perbuat, itu yang menentukan nilai kita sebagai MANUSIA.

21.15

Berpikir Kemungkinan Sukses”
1.
danu
January 4th, 2010 at 05:56
Saya masih teringat pada tahun 1975 an ketika buku pertama berhabasa Indonesia tulisan Norman V. Peal. Ketika itu saya masih seotang remaja yg bloon tapi doyan baca mulai dari komik silat Kho Ping Ho, koran sampe buku motivasi saya sikat. Salah satunya buku Berfikir Positif karta NVP tsb. Buku tersebut sedikit banyak menggugah saya dalam cara berpikir dan saya masih ingat sebelum keliling cari kerjaan saya selalu membawa buku NVP kemana2 bahkan lebih sering dari AlQuran. Buku tersebut menjadi pegangan saya sebagai penyemangat hidup yg kala itu masih berusia 18 tahun dan dari dibuku itulah saya banyak mendapat ide karena kita diminta untuk berfikir positif dalam hidup ini sehigga saya dapat menjadi sarjana dan dapat hidup mapan seperti ini. Saya mulai bekerja dari menjadi tukang pasang listrik PLN, kemudian supir taksi Gamya, supir omprengaan, apa saja saya kerjakan yg penting halal, padahal ayah saya pada waktu itu berpangkat Kolonel TNI AD. Saya betul2 memanfaatkan hidup ini untuk bekerja bahkan sampe sekarangpun saya terus berfikir dan terus bekerja tanpa henti, selama lebih dari 28 tahun saya menjadi seorang Pengawas Bank saya hampir tidak pernah cuti panjang, tidak pernah mangkir, selalu datang tepat waktu bahkan bersamaan dengan Cleaning Servis. Motivasi hidup ini saya dapatkan karena membaca NVP yg sekerang sudah sulit didapat di toko buku.
Nah ….kalo anda orang muda yang ingin berhasil bacalah buku ini jadikanlah sebagai penyemangat hidup dan jangan lupa minta kepada Allah untuk membantu kita.
Wass
[Reply]
2.
danu
January 4th, 2010 at 07:14
Berikut saya sampaikan sedikit tulisan NPV :
Suatu ketika seorang pria menelepon Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih.Tidak ada lagi yang dimilikinya dalam hidup ini. Norman mengundang pria itu untuk datang ke kantornya.
“Semuanya telah hilang. Tak ada harapan lagi,” kata pria itu.
“Aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini”.
Norman Vincent Peale, penulis buku “The Power of Positive Thinking”, tersenyum penuh simpati.
“Mari kita pelajari keadaan anda,” katanya Norman dengan lembut.
Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya. Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih tersisa.
“Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan,” kata pria itu tetap dalam kesedihan.
“Aku sudah tak punya apa-apa lagi.”
Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?” tanya Norman.
“Hei, apa maksudmu? Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!”
“Kalau begitu bagus sekali,” sahut Norman penuh antusias.
“Mari kita catat itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan “Istri yang amat mencintai”.
“Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?”
“Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!”
“Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan “Anak-anak tidak berada dalam penjara.” kata Norman sambil menuliskannya di atas kertas tadi.
Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu menangkap apa maksud Norman dan tertawa pada diri sendiri.
“Menggelikan sekali. Betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir dengan cara seperti itu,” katanya.
Kata orang bijak, bagi hati yang sedih lagu yang riang pun terdengar memilukan. Sedangkan orang bijak lain berkata, sekali pikiran negatif terlintas di pikiran, duniapun akan terjungkir balik. Maka mulailah hari dengan selalu berfikir positif.
Tuliskanlah hal-hal positif yang Kita pernah dan sedang miliki dalam hidup ini, bebaskan pikiran-pikiran kita dari hal-hal negatif yang hanya akan menyedot energi negatif dari luar diri kita.
Dengan berfikir positif kehidupan ini akan terasa amat indah dan tidaklah sekejam yang kita bayangkan. Objek-objek yang berada di sekitar kita akan sangatlah tergantung dari bagaimana cara kita memandang dan mempersepsikannya. Lingkungan Kita adalah Pikiran Kita. Lingkungan akan berbuat positif kepada Kita jika Kita mempersepsikannya baik, sebaliknya Lingkungan akan berbuat negatif kepada kita ketika kita mempersepsikan sebaliknya.
[Reply]
1.
Judi

19.51

AhLaan...wa SaHLaaaan...!!

Kekuatan Konkrit
Apa yang membuat sesuatu menjadi ’konkrit’? Jika Anda dapat meneliti sesuatu dengan indra Anda, berarti itu konkrit. Bahasa yang konkrit membantu orang, terutama yang belum berpengalaman, untuk pahami konsep-konsep baru. Saran buat trainer, guru, dan pembicara, jika Anda mulai mengajarkan sebuah gagasan di sebuah ruangan yang dipenuhi orang, dan Anda tidak yakin apa yang mereka ketahui, bahasa yang konkret adalah satu-satunya bahasa yang aman.
Gagasan konkrit lebih mudah diingat. Eksperimen tentang ingatan manusia telah membuktikan bahwa kita lebih baik dalam mengingat kata benda konkrit dan mudah dibayangkan. Latihan di bawah ini membantu Anda menguji gagasan ini. Sekelompok kalimat berikut akan meminta Anda mengingat berbagai gagasan. Gunakan 5 sampai 10 detik untuk memikirkan masing-masing, jangan cepat-cepat berpindah dari gagasan itu. Anda akan melihat bahwa mengingat kembali hal-hal yang berbeda itu terasa beda.
1. Ingatlah ibukota Irian Jaya
2. Ingatlah kelima warna balon dalam lagu ”Balonku Ada Lima”
3. Ingatlah rumah saat Anda menghabiskan sebagian besar masa kecil Anda
4. Ingatlah definisi ’patriotisme’
5. Ingatlah definisi ’nasi pecel’
Dari kesemua latihan itu, setiap perintah untuk mengingat di atas menggunakan kegiatan mental yang berbeda. Saat mengingat ibukota Irian Jaya, ini adalah latihan yang abstrak. Kecuali jika Anda pernah singgah atau tinggal di Papua. Yang berlawanan, ketika Anda berpikir tentang 5 warna balon dalam ’Balonku Ada Lima’. Anda mungkin mendengar seseorang menyanyikannya, kata per kata, hingga mudah bagi Anda mengingatnya sambil bernyanyi lagu itu. Ingatan tentang rumah masa kecil Anda dapat membangkitkan sejumlah besar ingatan, berbasiskan indrawi. Bau, penglihatan, suara. Anda bahkan mungkin merasakan diri Anda sendiri berlari, keluar masuk rumah Anda, atau mengingat di mana orang tua Anda biasa membaca koran.
Definisi ’patriotisme’ mungkin sedikit lebih sulit untuk dimunculkan. Anda tentu saja memiliki pengertian tentang apa makna ’patriotisme’, tetapi tidak memiliki definisi yang sudah dirumuskan dan mudah diingat seperti Anda mengeluarkan ingatan tentang ’nasi pecel’. Saat ingat ’nasi pecel’, dengan segera membangkitkan ingatan rasa-bumbu adonan kacang goreng dicampur dengan bawang putih yang berwarna coklat, ditemani nasi putih punel/empuk, ditaburkan di atas sayuran yang hijau-ranum-dan tentunya masih segar- semisal kacang pendek, bayam, kembang turi, kecambah, dibarengi lauk-pauk sesuai selera Anda. Dan yang paling khas adalah rempeyek-nya. Bahkan, ada di antara peserta pelatihan kami, ada yang langsung teringat kursi dan meja di mana terakhir kalinya ia menyantap nasi pecel di warung langganannya. Luar biasa!
Jika ada di antara Anda yang sedang berpuasa sunnah di bulan Sya’ban kali ini, mohon dilanjutkan puasa Anda. Saya tidak sedang memprovokasi pikiran Anda, dengan sejumlah ingatan menyegarkan. Anggap saja sebagai pendamping, menjelang berbuka puasa.
Gagasan yang melekat secara alamiah adalah yang penuh dengan kata konkrit dan -seringkali- gambar. Pasti akan lebih mudah ingat, saat semakin banyak indra yang terlibat. Ingatan kita bekerja laksana Velcro. Bagi Anda yang belum tahu apa itu namanya Velcro, datangi penjahit atau toko perlengkapan konveksi, dan bertanyalah di sana. Dan Anda akan temukan Velcro. Bagi Anda yang lebih dulu tahu, jika Anda perhatikan kedua sisi dari bahan Velcro, Anda akan lihat bahwa sisi yang satu tertutup dengan ribuan kait yang sangat kecil dan sisi yang lain tertutup ribuan gulungan yang sangat kecil. Saat Anda menekan kedua sisi bersamaan, sejumlah besar kait tertangkap di dalam gulungan itu, dan itulah yang menyebabkan Velcro menempel.
Mirip dengan itu, otak Anda menjadi tuan rumah bagi gulungan-gulungan dalam jumlah yang luar biasa. Semakin banyak kait yang dimiliki oleh sebuah ide, semakin baik ide itu melekat pada ingatan. Rumah masa kecil Anda dan nasi pecel memiliki kait yang sangat banyak jumlahnya di dalam otak Anda.
Seorang guru yang hebat memiliki keahlian khusus untuk melipatgandakan jumlah kait dalam gagasan tertentu. Kisah nyata berikut ini, diambil dari pengalaman Jane Elliot, guru SD di Iowa. Ia merancang sebuah pesan yang sangat kuat –dengan memanfaatkan begitu banyak aspek emosi dan ingatan yang berbeda– sehingga, dua puluh tahun setelahnya, para muridnya masih dapat mengingat dengan jelas.
Mata Cokelat, Mata Biru
Martin Luther King, Jr dibunuh pada 4 April 1968. Esoknya, Jane Elliot, guru SD di Iowa mendapati dirinya berusaha menjelaskan kematian King kepada para muridnya. Kelas 3 SD. Di kota kecil Riceville, Iowa, semua penduduknya berkulit putih, para murid kenal dengan King tetapi tidak dapat memahami siapa yang inginkan kematian King, atau mengapa.
Elliot berkata, ”Saya tahu sekarang saatnya untuk menangani hal ini secara konkrit, karena kita telah berbicara tentang diskriminasi sejak hari pertama sekolah. Tetapi, penembakan Martin Luther King, salah seorang yang dipilih menjadi ’Pahlawan Bulan Ini’ dua bulan sebelumnya, tidak dapat dijelaskan kepada anak-anak kelas tiga yang masih kecil di Riceville, Iowa.”
Esoknya, ia datang ke sekolah dengan sebuah rencana. Ia bermaksud membuat prasangka itu menjadi jelas bagi para muridnya. Di awal kelas, ia membagi para murid menjadi dua kelompok. Anak-anak bermata cokelat dan satunya yang bermata biru. Ia kemudian membuat pengumuman yang mengejutkan: ”Anak-anak bermata cokelat lebih unggul dari anak-anak bermata biru. Mereka orang-orang yang lebih baik di ruangan ini.” Kelompok-kelompok itu lalu dipisahkan: Anak-anak bermata biru dipaksa untuk duduk di belakang kelas. Anak-anak bermata cokelat diberitahu bahwa mereka lebih pintar. Mereka diberi waktu tambahan pada jam istirahat. Anak-anak bermata biru harus mengenakan kalung khusus, sehingga semua orang akan mengetahui warna mata mereka dari jauh. Kedua kelompok itu tidak diijinkan bergabung pada jam istirahat.
Elliot sangat terkejut dengan betapa cepatnya kelas berubah. ”Saya melihat anak-anak itu menjadi anak-anak kelas tiga yang tidak menyenangkan, jabat, dan melakukan diskriminasi… keadaan itu mengerikan,” ujarnya. ”Persahabatan nampaknya hilang dengan seketika, pada waktu anak-anak bermata cokelat mengejek anak-anak bermata biru yang sebelumnya adalah teman mereka. Seorang siswa bermata cokelat bertanya kepada Elliot bagaimana ia dapat menjadi guru ‘jika Anda mendapatkan mereka bermata biru.’”
Pada permulaan kelas keesokan harinya, Elliot berjalan masuk dan mengumumkan bahwa ia telah berbuat salah. Sebenarnya anak-anak bermata cokelat yang lebih rendah kedudukannya. Pembalikan nasib ini diterima dengan seketika. Teriakan kegembiraan terdengar nyaring dari anak-anak bermata biru sewaktu mereka berlarian untuk memasangkan kalung mereka pada teman-teman mereka yang bermata cokelat, yang lebih rendah.
Di hari ketika mereka berada di kelompok yang lebih rendah kedudukannya, para murid menggambarkan diri mereka sendiri sebagai sedih, buruk, bodoh, dan hina. ”Ketika kami di bawah,” kata seorang anak laki-laki, suaranya jadi parau, ”rasanya seperti segala sesuatu yang buruk sedang menimpa kami.” Ketika mereka di atas, para murid merasa bergembira, baik, dan pintar.
Yang lebih mencengangkan, performa mereka pada tugas-tugas akademis berubah. Salah satu latihan dalam pelajaran membaca adalah satu set kartu bunyi bahasa yang harus dibaca secepat mungkin oleh anak-anak itu. Di hari pertama, ketika anak-anak bermata biru berada di bawah, mereka membutuhkan waktu 5,5 menit. Di hari kedua, ketika mereka berada di atas, mereka memerlukan waktu 2,5 menit. ”Mengapa kalian tidak bisa membaca secepat ini kemarin?” tanya Elliot. Seorang anak bermata biru menjawab, ”Kami mengenakan kalung itu…” Seorang yang lain menyela, ”Kami tidak bisa berhenti berpikir tentang kalung itu.”
Simulasi Elliot membuat prasangka menjadi konkrit, bahkan sangat konkrit. Simulasi itu juga berdampak tahan lama terhadap kehidupan para muridnya. Studi yang dilakukan sepuluh dan dua puluh tahun kemudian menunjukkan, betapa para murid Elliot secara signifikan tidak terlalu berprasangka dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak menjalani latihan itu.
Para murid masih mengingat simulasi itu dengan sangat jelas. 15 tahun kemudian, mereka mengadakan reuni yang disiarkan serial oleh PBS Frontline mengungkapkan betapa dalamnya hal itu telah menggerakkan mereka.
Ray Hansen, yang ingat bagaimana pemahamannya berubah dari satu hari ke hari selanjutnya, berkata ”Itu adalah salah satu pengalaman pembelajaran yang paling mendalam yang pernah saya jalani.” Sue Giner Rollan berkata, ”Prasangka harus diselesaikan ketika masih muda atau hal itu akan menguasai Anda sepanjang usia Anda. Kadang-kadang saya dapati diri saya (melakukan diskriminasi), menghentikan diri saya sendiri, berpikir kembali ke waktu saya di kelas tiga, dan mengingat bagaimana rasanya direndahkan.”
Jane Elliot memasukkan beragam kait ke dalam gagasan tentang prasangka. Ia mengubah prasangka menjadi pengalaman. Pikirkan tentang ’kait-kait’ yang terlibat.
1. Penglihatan tentang seorang teman yang mencemooh Anda.
2. Sentuhan sebuah kalung di leher Anda.
3. Perasaan putus asa karena merasa berkedudukan lebih rendah.
4. Kejutan yang Anda rasakan setiap kali Anda memperhatikan warna mata Anda di cermin.
Pengalaman ini memasukkan begitu banyak kait ke dalam ingatan para siswa, sehingga, puluhan tahun kemudian, pengalaman itu tidak dapat dilupakan.
Baik Anda menjadi guru bagi diri sendiri, atau juga bagi orang lain. Dengan cara yang sama, Anda juga bisa berdayakan diri Anda dengan beragam kait (anchor) indrawi. Semakin spesifik kait indrawi Anda, semakin nyata ia membantu Anda lebih berdaya. Dengannya, semoga Anda lebih sering dapati diri Anda dengan lebih mudah dapatkan tujuan hidup Anda secara lebih cepat.
Semoga tulisan sederhana ini berguna.
Selamat membuat tujuan hidup yang lebih multi indrawi!
“Jelasnya impian membuat menariknya perjalanan.
Membuat jauhnya jadi dekat, mengubah lelahnya jadi gembira.
Mengubah susahnya jadi penggelora jiwa.”
“Tapi entah kenapa, ada orang yang enggan berimpian yang jelas-jelas indah, yang menawan hatinya. Adakah dia lupa, bahwa impian adalah sebentuk perencanaan, sebuah proposal hidup.
Segenggam impian adalah sekepalan harapan.
Sebentuk kebergantungan jiwa kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Allah swt.”