Dalam kehidupan ini, aku ingin memilah antara aku dan egoku, anatara aku, dan rasa sakitku, antara aku dan rasa takutku, antara aku dan rasa sombongku, antara aku dan rasa iri ku.
Diam sejenak mengendapkan semua ego yang tercampur dengan diri, karena apapun yang terjadi aku adalah matahari dan seluruh ego mengorbit padaku, aku adalah aku, bukan bayanganku,
ya Rob, esok hari jumat, adalah awal tahun baru, awal tahun yang entah apa yang telah aku perbuat selama 25 tahun hidupku, terkadang aku teramat jauh dari diriku, terkadang aku mengumpat diriku, bersyukur dan sekaligus menggugat diriku.
Apakah aku? Bagaimana aku? Aku adalah titik dari sebuah lukisan yang teramat besar. Aku hanyalah titik kecil diantara titik-titik makhlukMu yang lainnya. Namun sekali waktu aku besar karena hati ini besar.
Engkau ciptakan aku, dengan sedemikian rupa, untuk bersyukur atas kehidupan ini, mungkin teramat jarang,
sedangkan Engkau tidak pernah lupa menghidupkanku setelah tidurku,
Engkau tidak pernah lupa untuk terus memberikan udara untukku bernafas.
Seandainya Engkau bukan Tuhan mungkin Engkau teramat marah terhadap mahluk ciptanMu yang bernama manusia. Terutama kepadaku. Yang selalu berdosa.
Ya Rob…. Di tahun baru ini, ada banyak ruang yang didalamnya aku ingin berkarya, bekerja untuk hutang kehidupanku padaMu. Meskipun tak sehebat yang dilakukan oleh para sahbat ketika hijrah, Hijrah Rasul adalah lambang segalanya, esok hari seperti halnya yang terjadi pada tahun 1 H. banyak hal dimana kita harus selalu berkaca, berkaca pada pengorbanan sahabat untuk membantu nabi hijrah, mereka lebih mencintai Rasul dari pada diri mreka sendiri. Ali bin Abi Tholib, menggantikan tempat tidur rosulullah ketika malam itu beliau berangkat Hijrah dan kita tahu konsekuensi apa yang akan ditanggung oleh sahabat Ali ra..
Sedangkan Abu Bakar, menyertai rosulullah dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Al Bukhori meriwayatkan dari Anas, dari Abu Bakar, dia berkata : “Aku bersama Nabi saw di dalam gua. Kudongakkan kepala, dan kulihat kaki beberapa orang. Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, andaikata mereka melongokkan pandangannya, tentu mereka akan melihat kita. Nabi saw berkata “ apa pikiranmu wahai Abu Bakar tentang dua orang, sedang yang ketiga adalah Allah”.
Dalam hal ini dia berkata “Jika aku terbunuh, maka aku hanyalah seorang manusia, namun jika engkau yang terbunuh, maka umat tentu akan binasa. (Siratir-Rosul, SyaikhAbdullah Annajdy).
Allah selalu bersama kita ketika kita teguh kepadaNYa. Allah tidak hanya menemani rasul dan para sahabat untuk hijrah, tapi juga menemani kita, kita juga umat rasul yang akan diberikan pertolangan selama kita teguh terhadapNya.
Tahun baru ini aku ingin melepas semua, berdamai dengan kesalahanku yang telah lalu, memafkan diriku atas kebodohanku, memafkan diriku atas hatiku yang kotor, memafkan diriku untuk bisa terus memperbaiki diriku, untuk terus bersyukur kepadaMu.
Sesadar sadarnya dalam kehidupanku, aku hanya berhadapan dengan aku, karena apapun kehidupan ini aku yang merespon bukan mereka yang membuatku marah, namun hatiku memilih untuk marah, bukan suasana yang membuatku malas tapi aku yang memilih untuk malas, AKU mengontrol semua, semuanya mengorbit pada SELF, AKU.
Apa yang terjadi esok, yang penting hari ini aku SEMANGAT, aku ingin menjalani semua dengan BERANI. Berani layaknya sahabat rasul ketika hijrah, berani layaknya Ali tidur untuk menggantikan rasul.
Aku tidak akan gentar atas apapun, karena Dia yang menciptakanku, Dia maha Besar, aku tidak akan menjadi kerdil hanya karena manusia, apa yang kita takutkan kepada manusia, kita sama, mempunyai jiwa, emosi, nafas, ruh dan otak untuk berpikir. Sukses ataukah gagal itu adalah suatu konsekwensi yang tidak perlu dipikirkan, yang jelas proses berani harus ada dalam hidup ini, kita bukan hanya riak atas apa yang dilakukan oleh orang lain, kita juga ombak yang bisa menghempas kan semua ke tepian. Bahkan kita bisa menjadi air bah yang merubah segalanya.
Tahun ini HARUS LEBIH BAIK
Tahun ini harus lebih bisa menjadi MANUSIA dan bukan menjadi SETAN. Karena syarat menjadi manusia bukan sesuatu yang mudah. kita di uji untuk mengabaikan atau mendengarkan kata hati kita yang selalu benar. Kita di uji apakah kebinatangan kita yang dominan atau aspek ilahi kita yang lebih dominan.
Waktu,
hanya waktu yang menjadi saksi atas segala apa yang kita perbuat, kita ucap, kita pikir, dan atas apa yang terdetik dalam hati kita.
Semua tulisan ini tidak penting, yang terpenting adalah apa yang akan terjadi setelah tulisan ini tertuliskan dan terbaca oleh siapapun, aku, kamu, dia, kita semua tidak memerlukan tulisan ini untuk menasehati diri kita, karena kita yang lebih mengetahui diri kita, dan apa yang kita pilih dalam kehidupan ini, apa yang kita maui untuk kita perbuat, itu yang menentukan nilai kita sebagai MANUSIA.
Jejak Langkah seorang Muslimah
21.29
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar