02.02

(منهج التعليم اللغة العربية)
(METODE BELAJAR BAHASA ARAB PRAKTIS)


فعل المضارع (kata kerja yang menunjukkan "sedang dilakukan)
(rumus:fi'il mudhori'(kt kerja)+fa'il(subjek)+maf'ul bih(objek))
Asal-muasal terbentuknya fi'il mudhori'
•Dari kata benda (noun)
Contoh:
مَكْـتَبٌ = مَ – كَ – تَ – بَ = ( فعل الماضي ) كَتَبَ ( فعل المضارع ) يَكْتُب

(dia laki2 sedang menulis) (dia (Lk) menulis/past) (meja=tempat untuk menulis)
*ﻱ dalam kata يَكْتُب memiliki fungsi sebagai dhomir (subjek) yang menunjuk kepada subjek Dia Laki-laki.Dalam penggunaannya selalu berubah sesuai dengan subjek yang dimaksud.Karena itu huruf yaa bersifat tidak tetap, sedangkan susunan huruf setelahnya tetap karena merupakan kata dasar.Bisa dikatakan )ﻱyaa) berfungsi sebagai imbuhan yang mempertegas subjek yang dimaksud dalam kalimat tersebut.Perhatikan tabel dibawah ini:

اَلْفِعِلُ اَلْمُضَارِعْ اَلْمَعْنَى الضَمِيْر
يَكْتُبُ (sedang menulis) Dia laki-laki (Ali,dll) هُوَ
يَكْتُبَان(sedang menulis) Mereka (2 orng laki-laki) هَمًأ
يَكْتًبُونَ (sedang menulis) Mereka (laki-laki banyak) هُمْ
تَكْتُب(sedangmenulis) Dia perempuan (Aisyah,dll) هِيَ
تَكْتُبَانِ (sedang menulis) Mereka (2 orang perempuan) هُمَا
يَكْتُبْنَ(sedangmenulis) Mereka (perempuan banyak) هُنَّ
تَكْتُبُ(sedangmenulis) Kamu laki-laki اَنْتَ
تَكْتُبَانِ (sedang menulis) Kamu (2 orang laki-laki) اَنْتًمَا
تَكْتُبْنَ(sedang menulis) Kamu(laki-laki) sekalian اَنْتًمْ
تَكْتُبِيْنَ(sedang menulis) Kamu perempuan اَنْتِ
تَكْتُبَانِ(sedang menulis) Kamu (2 orang perempuan) اَنْتًمَا
تَكْتُبْنَ(sedang menulis) Kamu (perempuan)sekalian اَنْتًنَّ
اَكْتُبُ (sedang menulis) Saya اَنَا
نَكْتُبُ (sedang menulis) Kami/kita نَحْنً

03.18

Muhasabah CInta

Sebab cinta merindukan para pelakunya yang setia, sebab cinta memaknai apa yang dimaknai, dan sebab cinta selalu ada bagi para pencinta-pencinta sejati.
Cinta memang indah, terlebih ketika cinta mulai merasuki jiwa-jiwa yang sedang jatuh karenanya. Tapi cinta bukanlah sekedar cinta jiwa kepada sesama manusia, melainkan ada lagi cinta-cinta lain yang karenanya kita bekerja (amal) memanifestasikan amal-amal yang kita perbuat hanya karena-Nya dan karenanya lah para pencinta sejati rela merelakan hidupnya dan meregangkan nyawanya hanya untuk sebuah totalitas cinta kepadaNya, ini dinamakan dengan cinta misi.
Begitulah cinta bekerja, memaknai apa yang dimaknai. Ketika cinta bekerja, ruangnya tak berbatas, ia memiliki ruang kehidupannya sendiri yang luas dan inti dari pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk terus tumbuh dan berbahagia karenanya.
Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidupnya ; memberi. Tak perlulah repot-repot kita melihat zaman yang sangat jauh dibelakang, kita lihat saja ketika Imam Syahid Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb ketika itu rela meregangkan nyawanya hanya untuk sebuah pengabdian dan penghambaan cintanya kepada Pemilik Cintanya, itu semua semata-mata demi misi besar mereka, memberikan sepenuh cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, terus dan terus menerus memberi. Dan seekor kupu-kupu yang ketika itu masih berbentuk kepompong dan kemudian bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, dengan menahan rasa sakitnya ia terus menerus mendorong dirinya keluar dari kepompongnya untuk menunjukkan dan memberikan keindahannya kepada dunia dengan penuh cinta, tanpa pernah dimintapun kupu-kupu selalu memberikan yang terindah, bahkan ia rela sekalipun ia tidak pernah menikmati keindahan dirinya sendiri, itu semua ia lakukan demi cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, terus dan terus menerus memberi tanpa pernah meminta ataupun menerima.
Seperti dikutip dari note saudara saya Fadli Rahman,”Karna cinta berarti harus siap memberi, memberikan yang terbaik, memberikan yang terindah, bahkan sampai harus meregang nyawa.”
Bagaimana dengan menerima? Mungkin atau bisa jadi hal itu pasti, tapi itu hanyalah sebuah efek, efek dari apa yang para pencinta sejati berikan, seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebijakan yang sama pula.
Begitulah cinta bekerja, memaknai apa yang dimaknai.
***

22.54

Now...

Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan setelah lelah berharap
pengharapan yang timbul dari kecil hingga dipupuk menjadi besar
lalu...makin menjauh
Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima
Orang yang jatuh cinta diam-diam faham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang diharapkan
Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa seperti mereka
jatuh cinta sendirian...

23.44

Inilah akibat dari iman


23.13

Catatan Kecil Dalam Dekapan Ukhuwah

Karena beda antara kau dan aku sering kali jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggalkan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
Wasiat Sang nabi itu terasa berat sekali:
“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara,sejenak saja
Menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam bersujud dalam-dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Hungga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
Melantunkan kebaikan di antara bunga,menebarkan keindahan pada dunia

Lalu dengan rindu kita kembali ke daLam dekapan ukhuwah
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya dibumi
Dengan persaudaraan suci; sebening prasangka,selembut nurani,
sehangat semangat,senikmat berbagi.,dan sekokoh janji…

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit.
Lalu menebarkannya di bumi.Sungguh di surga menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang aling mencinta.Mari kita mambangunnya disini, dalam dekapan ukhuwah.
“..Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman.Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka,takkan bisa kau himpunkan hati mereka.Tetapi Allah lah yang telah menyatupadukan mereka..”
(Q.S. Al-Anfal : 63)

Kita sama saja,terpenjara dalam kesendirian
Hanya saja…
Ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya
Sementara yang lain menghuni kamar berjendela…
_Kahlil Gibran_

Ketika kubaca firman-Nya,”Sungguh tiap mukmin bersaudara”
Aku merasa,kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan
Tak perlu,karena ia hanyalah akibat dari iman
Karena saat ikatan melemah,saat keakraban kita merapuh
Saat salam terasa menyakitkan,saat kebersamaan serasa siksaan
Saat pemberian bagai bara api,saat kebaikan justru melukai
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
Hanya iman-iman kita yang sedang sakit,atau mengerdil
Mungkin dua-duanya,mungkin kau saja
Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping
Kubaca firman persaudaraan ukhty saying…
Dan aku makin tahu,mengapa di kala lain diancamkan
“…para kekasih pada hari itu,sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..
Kecuali orang-orang yang bertaqwa..”

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
Kita lekat bagai api dan kayu
Bersama menyala,saling menghangatkan rasanya
Hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
Kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
Merasa menghias langit,menyuburkan bumi, dan melukis pelangi
Namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

Di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
Mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
Bahkan saling menasehati pun tak lain bagai dua lilin
Saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
Pada amal salih yang menjulang bercabang-cabang
Pada akhlak yang manis,lembut, dan wangi
Hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
Yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya

Persaudaraan adalah mu’jizat, wadah yang saling berkaitan
Dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan
Saling bersaudara,saling merendah lagi memahami
Saling mencintai, dan saling berlembut hati –Sayyid Qutb-

Malam berlalu,tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu
Kepada mereka yang wajahnya mengingatkanku akan surge
Wahai fajar terbitlah segera,
Agar sempat kukatakan pada mereka “aku mencintai kalian karna Allah
Iman kita agaknya bukan bongkah batu karang yang tegak kokoh
Dia hidup bagai cabang menjulang dan dedaun rimbun
Selalu tumbuh, dan menuntut akarnya menggali kian dalam
Juga merindukan cahaya mentari,embun, dan udara pagi
Andai si biji hanya menumbuhkan akarnya
Tanpa kehendak untuk tampil dengan batang
Menggapai langit dengan ranting dan cabang
Jadilah ia bangkai
Yang layaknya memang terkubur dalam-dalam

Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan kita Setiap orang adalah guru bagi kita
Ya.Setiap orang.Siapapun mereka.
Yang baik juga yang jahat.Betapapun yang mereka berikan kepada kita selama ini hanyalah luka ,rasa sakit,kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita.Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana.Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.
Mereka mungkin tanah gersang.Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana.Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya,awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghiasi malamnya.
Tetapi barangkali,kita justru adalah tanah paling gersang.Lebih gersang dari sawah yang kerontang.Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau panjang.Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus.Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana.

-jika satu-satunya alat yang kau miliki adalah palu,
kau akan cenderung melihat segalanya sebagai paku-

Aku takjub pada orang yang suka dipuji atas apa yang tak dilakukannya
Aku takjub pada orang yang suka dikagumi atas hal yang bukan miliknya
Aku takjub pada orang yang merasa benar dengan menyalahkan kawan
Aku takjub pada orang yang merasa mulia dengan menghinakan sesama
Dan semua itu akan kuringkas menjadi :Aku takjub pada diriku sendiri..

Menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah
Terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri
Jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita
Tidakkah kita curiga bahwa kita inilah masalahnya???

Jika sebuah penghinaan tak lebih mengerikan
Dibanding apa yang Allah tutupi dari kesejatian kita
Maka bukankah ia adalah sebait sanjungan???





Betapa Aku mencintai kalian karna Allah..seindah ukhuwah kita..di syurga